Dari SMK Swasta, Gagal Berkali-kali, Tapi Tidak Gagal Berkembang


“Kegagalan bukan akhir. Ia hanya bentuk lain dari petunjuk arah.” 

Memilih untuk melanjutkan pendidikan di SMK swasta jurusan Akuntansi merupakan keputusan yang sempat diragukan banyak orang. Namun dalam praktiknya, SMK memberikan pembekalan keterampilan kerja yang langsung dapat diimplementasikan. Saya sendiri merasakan bagaimana kompetensi akuntansi dasar, penggunaan software, serta pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi bekal nyata saat memasuki jenjang kuliah.. Saya berasal dari SMK swasta jurusan Akuntansi. Sejak awal, saya memiliki semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan menargetkan kampus bergengsi seperti PKN STAN. Selama di SMK, saya cukup aktif dan berprestasi—ikut lomba akuntansi, organisasi, serta menjadi siswa yang dikenal punya motivasi belajar tinggi.


Dengan penuh percaya diri, saya mendaftar ke berbagai jalur nasional: SNMPTN, SBMPTN, SNMPN Politeknik, SPAN PTKIN, dan Ujian Masuk STAN. Tapi semua itu berakhir dengan kegagalan. Bertubi-tubi. Setiap pengumuman menjadi momen yang menyesakkan. Meskipun berasal dari SMK dengan segudang pengalaman praktik, saya tidak lolos satu pun dari jalur nasional.

🌧️Gagal di Rencana Awal: Bukan Akhir Segalanya

Gagal di STAN terasa sangat berat karena itu adalah mimpi utama saya sejak awal. Namun lebih dari itu, ketika jalur PTN lain pun tertutup, saya sempat merasa ragu dengan diri sendiri. Ada titik di mana saya berpikir bahwa mungkin saya memang tidak layak berada di dunia akademik.

Namun, seperti yang disebut dalam teori resiliensi oleh Masten (2001), kemampuan individu untuk bangkit dari pengalaman negatif adalah fondasi penting dalam pertumbuhan jangka panjang. Saya memutuskan untuk tidak berhenti mencoba.

Saya mendaftar ke berbagai kampus melalui jalur mandiri dan beasiswa. Hasilnya cukup mengejutkan: diterima di 5 PTN dan 1 PTS dengan tawaran beasiswa. Dari semua pilihan itu, saya memilih Universitas Negeri Malang (UM), Program D4 Akuntansi. Keputusan itu saya ambil berdasarkan kurikulumnya yang berbasis vokasi terapan, lingkungan belajar yang mendukung, serta nilai-nilai yang sejalan dengan tujuan pribadi saya.

🌱 Transformasi Melalui Pendidikan Tinggi

Masuk kuliah membawa tantangan baru. Saya datang dari latar belakang SMK swasta—bukan dari SMA favorit, bukan dari lingkungan "unggulan". Di awal, saya membawa beban kegagalan, perasaan minder, dan ketakutan untuk tampil. Saya cenderung diam, tidak berani menyampaikan pendapat, dan hanya mengikuti alur. Melalui lingkungan akademik yang suportif, saya mulai berani berbicara, berdiskusi, bahkan tampil sebagai pemimpin dalam tim. Saya berani mengambil risiko untuk keluar dari zona nyaman, salah satunya dengan mengikuti organisasi, kompetisi ilmiah, dan menjadi asisten dosen. Transformasi ini sejalan dengan pandangan Vygotsky (1978) bahwa pembelajaran terjadi secara maksimal ketika seseorang berada dalam zone of proximal development—area di mana individu mampu berkembang dengan bantuan dari lingkungan sosial.

Saya mulai berani tampil di depan umum, sesuatu yang dulunya menjadi ketakutan terbesar saya, seseorang yang dulunya pernah mendapatkan catatan "kamu harus berani berpendapat, jangan takut salah, dan jangan menunggu ditunjuk" di raport semasa di bangku SD sekarang sudah bertumbuh bisa menjadi Moderator di depan ribuan mahasiswa di masa Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Fakultas, menjelaskan agenda divisi di depan mahasiswa departemen akuntansi, dan menjadi Sekretaris Organisasi yang selalu berkomunikasi dengan lingkungan internal maupun eksternal . Menurut Bandura (1997), hal ini berkaitan dengan self-efficacy—kepercayaan diri terhadap kemampuan diri, yang menjadi penggerak utama perubahan perilaku dan prestasi.

Tidak berhenti sampai di situ, saya mendapat kesempatan menjadi asisten dosen. Saya terlibat dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, dua hal yang memperluas perspektif saya tentang bagaimana ilmu akuntansi bisa diterapkan dalam konteks nyata. Saya juga beberapa kali ikut lomba karya tulis ilmiah dan berhasil membawa nama kampus hingga ke tingkat nasional—salah satunya di Makassar memberikan pengalaman konkret tentang pentingnya experiential learning (Kolb, 1984). Melalui pengalaman langsung, saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, dan public speaking—semua hal yang sebelumnya menjadi kelemahan saya.

💼 Hasil dari Proses Bertumbuh

Dari proses itu, saya belajar bukan hanya akademik, tetapi juga public speaking, kepemimpinan, kolaborasi tim, dan problem solving. Menurut Kolb (1984), experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman memiliki peran besar dalam membentuk keterampilan hidup.

Puncaknya adalah ketika saya menerima Letter of Acceptance (LOA) dari salah satu konsultan akuntansi dan pajak, bahkan sebelum saya lulus kuliah. Mereka tidak hanya melihat IPK, tapi juga portofolio, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, dan sikap kerja. Semua yang saya bangun sejak awal kuliah menjadi nilai tambah yang membedakan. Hal ini membuktikan bahwa keterampilan praktis dari SMK, dikombinasikan dengan penguatan akademik dan soft skills dari perguruan tinggi, dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap bersaing secara profesional.

Seperti dikatakan oleh Schunk, Pintrich, & Meece (2008), keberhasilan akademik dan karier dipengaruhi oleh interaksi antara faktor personal (motivasi, tujuan, efikasi diri), perilaku (keterlibatan aktif), dan lingkungan (dukungan sosial dan akademik). Dalam konteks ini, saya bersyukur berada dalam lingkungan kampus yang memberi ruang untuk berkembang dan berani mencoba.

Keputusan saya memilih UM, meski bukan rute awal yang saya rencanakan, menjadi titik balik yang paling saya syukuri. Lingkungan kampus ini memberi ruang aman untuk belajar, mencoba, gagal, dan bangkit.

📘 Refleksi Teori dan Realitas


Hal ini membuktikan bahwa lulusan SMK, bahkan dari sekolah swasta sekalipun, bisa tumbuh dan unggul di pendidikan tinggi. Menurut Kemendikbud (2020), SMK kini tidak hanya menyiapkan siswa untuk dunia kerja, tetapi juga untuk melanjutkan pendidikan dan terus berkembang (lifelong learning, Candy, 2002).

Gagal di satu jalur bukan berarti tertutupnya semua jalan. Pendidikan vokasi tidak membatasi kesempatan untuk melanjutkan studi atau mencapai prestasi. Sebaliknya, dengan semangat belajar, keuletan, dan dukungan lingkungan yang tepat, lulusan SMK dapat bertransformasi menjadi individu berdaya saing tinggi, bahkan melebihi ekspektasi awal.

Saya juga menyadari bahwa pengembangan diri tidak hanya tergantung pada tempat, tetapi juga pada kemauan untuk bertumbuh. Kampus bukan hanya ruang belajar, tapi ruang pembentukan karakter dan keberanian.

Bukan dari mana kita berasal yang menentukan keberhasilan, melainkan bagaimana kita melangkah dan berani menghadapi tantangan.


Ditulis oleh : Ika Listiana Rahayu 


Comments